Photo oleh Satriawan
Garantung

Garantung atau gong merupakan salah satu alat musik yang paling banyak terdapat dan digunakan masyarakat Suku Dayak. Selain Garantung dalam istilah masyarakat suku Dayak Ngaju atau yang berbahasa Ngaju, masyarakat Dayak juga menyebutnya dengan gong dan agung. Garantung diklasifikasikan sebagai salah satu alat musik dalam kelompok idiophone yang terbuat dari bahan campuran jenis logam (besi, kuningan dan perunggu)

Menurut sebagian orang, Garantung masuk ke wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah dibawa oleh para pedagang dari tanah Jawa, tepatnya pada saat hubungan dagang antara pedagang dari Kalimantan dan Kerajaan Majapahit.

Meski begitu, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa masuknya garantung ke daratan Kalimantan dibawa oleh para pedagang asal Yunan (Cina, India dan Melayu yang pada masanya memiliki pengaruh besar bagi perkembangan kehidupan masyarakat Suku Dayak.

Namun apabila menilik pada mitos dan kepercayaan suku Dayak, bahwa Garantung ada bersamaan turunnya manusia dari langit, bahwa Garantung adalah penanda status sosial dan harta berharga, dan melihat gambar serta ornamen Kapal atau perahu Banama Tingang (perahu naga suku Dayak jaman dahulu), bahwa dalam setiap bentuk gambar perahu tersebut terdapat beberapa benda menggantung berbentuk bundar seperti gong. Ada kemungkinan bahwa nenek moyang suku Dayak dahulu, pada saat berimigrasi ke pulau Kalimantan, mereka membawa serta pula peralatan berharga mereka seperti Garantung tersebut.

Perahu Banama Tingang (Perahu Naga Relief))

Miniatur perahu Banama Tingang terbuat dari bahan getah Nyatu

Perbandingan : Perahu Naga wisata di sungai Negara Cina
Di kalangan masyarakat Suku Dayak, Garantung juga dipercaya sebagai salah satu benda adat yang diturunkan dari Lewu Tatau (surga atau khayangan) sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Hingga kini keyakinan itu masih dipegang oleh masyarakat Dayak yang menganut agama Kaharingan (agama leluhur suku Dayak), namun bagi masyarakat suku Dayak yang sudah menganut agama baru (bukan Kaharingan), tentu kepercayaan bahwa Garantung adalah benda keramat sudah tidak mereka yakini lagi.

Dalam komunitas masyarakat Suku Dayak, Garantung juga digunakan untuk memberi tahu masyarakat luas tentang adanya suatu acara atau pesta yang dilaksanakan oleh salah satu keluarga, dan dari salah satu kampung ke kampung lain.

Begitu juga ketika ada acara kematian atau upacara Tiwah (dalam bahas Ngaju) atau Wara (dalam bahasa Dusun dan Ma'anyan) khususnya bagi para pemeluk Kaharingan (agama tua suku Dayak), pada saat jenazah masih disemayamkan di rumah duka, Garantung akan dimainkan untuk mengantarkan roh orang yang meninggal ke alam roh.

Tari Kanjan sebagai salah satu tarian sakral untuk mengantarkan roh orang yang meninggal ke alam roh, Garantung menjadi alat musik yang dominan untuk mengiringi tarian tersebut. Garantung akan dimainkan dengan irama khusus dan sakral.

Hampir dalam setiap upacara ritual, Garantung menjadi alat musik yang dominan, baik untuk mengiringi Balian (para dukun adat/pemimpin upacara) menari dan menyanyikan mantra, mengumpulkan masyarakat, sehingga begitu terdengar hingga kejauhan.

Selain sebagai alat musik tradisional, dalam komunitas masyarakat adat Suku Dayak, Garantung juga menjadi salah satu benda berharga yang berfungsi sebagai barang adat dan dijadikan sebagai alat tukar untuk menilai sesuatu barang atau jasa.

Keperluan sebagai barang adat itu masih berlangsung hingga sekarang, khususnya pada acara adat perkawinan, Garantung menjadi salah satu mas kawin atau barang permintaan yang harus diserahkan kepada pihak ahli waris mempelai perempuan. Salah satu istilah dalam persyaratan adat perkawinan yaitu Garantung Kuluk Pelek dalam bahasa Ngaju.

Pada perkembangan selanjutnya, karena terbatasnya jumlah Garantung (yang semakin lama menghilang entah kemana) maka nilai sebuah Garantung kemudian dihitung dalam bentuk nilai mata uang yang berlaku pada saat perjanjian perkawinan adat kedua mempelai dilakukan.

Selain itu, dahulu, Garantung juga menjadi salah satu penanda status sosial seseorang atau keluarga. Semakin banyak garantung yang dimiliki oleh seseorang atau keluarga tersebut, maka akan semakin tinggi status sosial yang bersangkutan dan semakin tinggi pula ia dihormati di masyarakat.






Garantung Suku Dayak terdiri atas empat jenis dengan lima nada dasar atau laras, masing-masing;
Garantung Tantawak berukuran kecil.
  • Jumlah : 1 buah
  • Nada dasar : G atau E
  • Frequensi getaran bunyi : ? Desibel
  • Cent Nada : ?
  • Ukuran lebar depan : 34 cm / 13,4 inci
  • Ukuran lebar lingkar belakang : ? cm
  • Tinggi : 10 cm / 3.9 inci
  • Ketebalan logam : ? cm
  • Ukuran tonjolan depan : ? cm
  • Lebar sisi : ? cm
  • Berat : 3,4 kg
  • Bahan : Tembaga ? %, Timah ? %, Kuningan : ? %
  • Bahan Pemukul/Stick : Kayu
  • Posisi Peletakan : Digantung pada sebuah standard
Garantung Lisung dengan ukuran sedang.
  • Jumlah : 1 buah
  • Nada dasar : D atau C
  • Frequensi getaran bunyi : ? Desibel
  • Cent Nada : ?
  • Ukuran lebar depan : ? cm
  • Ukuran lebar lingkar belakang : ? cm
  • Ketebalan logam : ? cm
  • Ukuran tonjolan depan : ? cm
  • Lebar sisi : ? cm
  • Bahan : Tembaga: ? %, Timah: ? %, Kuningan : ? %, Logam lainnya : ? %
  • Bahan Pemukul/Stick : Kayu
  • Posisi peletakan : Digantung pada sebuah standard
Garantung Papar berukuran besar.
  • Jumlah : 1 buah
  • Nada dasar : A
  • Frequensi getaran bunyi : ? Desibel
  • Cent Nada : ?
  • Ukuran lebar depan : ? cm
  • Ukuran lebar lingkar belakang : ? cm
  • Ketebalan logam : ? cm
  • Ukuran tonjolan depan : ? cm
  • Lebar sisi : ? cm
  • Bahan : Tembaga ? %, Timah ? %, Kuningan : ? %, Logam lainnya : ? %
  • Bahan Pemukul/Stick : Kayu
  • Posisi peletakan : Digantung pada sebuah standard
serta sebuah Garantung Bandih (bende dalam istilah di Jawa) yang berbentuk kecil tetapi memiliki nada yang tinggi.
  • Jumlah : 1 buah
  • Nada dasar : ?
  • Frequensi getaran bunyi : ? Desibel
  • Cent Nada : ?
  • Ukuran lebar depan : ? cm
  • Ukuran lebar lingkar belakang : ? cm
  • Ketebalan logam : ? cm
  • Ukuran tonjolan depan : ? cm
  • Lebar sisi : ? cm
  • Bahan : Tembaga ? %, Timah ? %, Kuningan : ? %
  • Bahan Pemukul/Stick : Kayu
  • Posisi peletakan : Digantung pada sebuah standard
Bunyi yang di hasilkan oleh kesemua jenis garantung tersebut berbeda dengan bunyi yang dihasilkan oleh gong dari pulau Jawa misalnya. Sebagai contoh bunyi yang dihasilkan oleh gong pada Gamelan Jawa terdengar getaran bunyi lebih panjang, namun pada Garantung getaran bunyi pendek. Sebenarnya kalau menilik pada ukuran Garantung, jumlah dan cara memainkannya, apabila di bandingkan dengan perangkat musik Gamelan Jawa, Garantung lebih merujuk pada instrumen Kempul. Namun dalam hal ini, Garantung lebih mendominasi permainannya untuk hal melodi pada ansambel ritual dan merupakan instrumen utama, dan Garantung dimainkan dengan tempo yang lebih cepat.

Garantung dibunyikan dengan menggunakan pemukul atau stick (alat tabuh) yang terbuat dari bahan kayu. Tak ada yang khusus dari bahan pemukul Garantung, yang terpenting kayu tersebut kuat untuk dipergunakan sebagai alat pemukulnya. Pada ujung pemukul tidak dilapisi dengan kain, karet ataupun bahan lainnya. Besarnya alat pemukulpun tidak ada ukuran tertentu, yang penting sesuai untuk menghasilkan bunyi apabila Garantung dimainkan.

Nama-nama Garantung di atas akan berbeda lagi sebutannya untuk tiap-tiap suku diluar suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Sebagai contoh; Dayak Dusun menyebut dengan istilah Agung, yang terdiri dari Agung Paningkah dan Agung Paninti.

Umumnya garantung di Kalimantan Tengah tidak disepuh atau dibuat mengkilap (menjadi berwarna kekuningan) seperti yang terdapat di Jawa atau di daerah lain, melainkan dibiarkan tetap berwarna hitam dan kasar pada permukaannya.

Garantung dapat dimainkan oleh tua, muda, anak-anak, dan wanita, selama mereka mampu dan paham pakem dari musik yang akan di mainkan.

Saat ini Garantung banyak sekali diperjual belikan sebagai barang antik oleh pemilik atau keturunan pemilik Garantung tersebut, sangat disayangkan, mengingat tidak adanya pandai besi di Kalimantan Tengah yang mampu membuat instrumen musik sejenis seperti di pulau Jawa. Diperkirakan instrumen musik ini apabila tidak dijaga dan dilindungi maka akan lenyap dari bumi Isen Mulang.


  • lihat video sampel Gong Dayak

  • kembali ke daftar isi
  • print this page Print halaman ini