Mansana

Suku Dayak Kalimantan Tengah mengenal salah satu jenis seni vocal yang disebut dengan Mansana. Terdapat dua jenis Mansana, yaitu ; Mansana dan Mansana Bandar. Mansana sendiri berarti cerita epik yang dilagukan atau dinyanyikan, sedangkan Bandar adalah nama seorang tokoh suku Dayak. Dapat dikatakan bahwa Mansana adalah bagian dari seni vocal Karungut, apabila kita melihat cara melagukan dan bentuk syair, namun syair Mansana bukan merupakan sebuah pantun.

Terciptanya Mansana Bandar
Bandar adalah salah seorang Tamanggung yang berpengaruh, memiliki kesaktian, berkepribadian simpatik dan menarik diagungkan karena kepahlawanannya. Bandar hidup di zaman Lewu Uju dan ada juga yang menganggap Bandar hidup pada masa datangnya bangsa Portugis-Belanda di pulau Kalimantan, diyakini bahwa Bandar bukan hanya sekedar tokoh mitos dan masih terdapat hingga kini masyarakat Dayak yang bernazar terhadap tokoh ini. Karena itu masyarakat suku Dayak merasa perlu untuk mengenang dan mengagungkan tokoh bandar kedalam sebuah cerita epik yang kemudian dilagukan atau dinyanyikan, hal ini tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat suku Dayak dalam mengabadikan segala sesuatu kedalam cerita non tertulis (oral poetry). Banyak Mansana
tercipta untuk memuji dan mengagungkan tokoh Bandar ini dan dengan versi ungkapan yang berbeda-beda.

Contoh syair Mansana Bandar dalam bahasa Indonesia bersumber dari Maneser Panatau Tatu Hiang

TAMANGGUNG MERATA PATI

Adalah konon asal cerita
Seorang Tamanggung sebagai kepala
Perintah adil tiada lawannya
Luwuk Dalam Betawi nama negerinya.

Adapun akan Temanggung pilihan
Amatlah kaya tiada terlawan
Kalau ditilik batang talian
Sungguh hebat bukan buatan.

Sungguh hebat batang pembesar
Berlantai ulin berpagar besar
Seakan-akan pelabuhan besar
Tahan dipukul gelombang besar.

Akan jalanan dari batang
Berjembatan kuat serta panjang
Berlantai ulin enam bidang
Bersambung sembilan sampai gelanggang.

Jembatan ulin semua berpasak
Semua dibikin dari pada perak
Itulah bukan karena congkak
Karena kekayaan Temanggung yang bijak.

Dalam jalan besar yang ke hulu
Semua hitam berpagar batu
Berpasir kuning sebagai mutu
Sayup-sayup kelihatan ujung tentu

Balik ke hilir badan bergerak
Semua putih berpagar perak
Hilir mudik sebagai berarak
Itu perbuatan semua budak.

Segenap lorong yang besar-besar
Terdiri toko serta pasar
Semua kepunyaan Temanggung pendekar
Rakyat aman tiada bertengkar.

Begitu juga kekayaan uang
Emas dan perak bergudang-gudang
Fakir miskin datang menjelang
Semua diberi mana yang kurang.

Supaya terus jalan cerita
Di muka kantor berkibar bendera
Menyatakan pegawai turun bekerja
Akan menyempurna susun negara.

Tempat istana Temanggung Pati
Rumah besar tiada terperi
Empat puluh pintu berlapis baiduri
Gilang gemilang berseri-seri.

Muatan di dalam cukuplah sudah
Ukir-ukiran yang indah-indah
Siapa melihat heran dan lengah
Tiadalah saja panjangkan mudah.

Sungguh-sungguh mengherankan juga
Di serambi muka yaitu beranda
Adalah patung sebagai boneka
Pandai bernyanyi dan berkata-kata.

Betul senang penghidupan baginda
Ada permaisuri jadi adinda
Mempunyai seorang ialah putera
Anak tunggal tak bersaudara.

Bandar disebut akan namanya
Tempat kesayangan ibu dan bapak
Rupanya elok tiada terkira
Gadis melihat tertarik mata.

Anak laki-laki bertambah besar
Dalam negeri menjadi sinar
Ditimang-timang jadi pendekar
Mengganti ayah kalau besar.

Cukuplah pintar Bandar bestari
Akan menolong memangku negeri
Rakyat setia di dalam Betawi
Kecil besar menghormati.

Pada suatu hari anak dilihat
Rupanya ia berubah tabiat
Timbul sombong tiada manfaat
Perintah ayah tiada diingat.

Tabiat sombong tiada terkira
Suka menghianat gadis beka
Biarpun ditegur dan disapa
Tiada ia jera juga.

Karena kekerasan perbuatan Bandar
Ke negeri lain menjalankan kabar
Barang siapa tiada sadar
Tentu diperkosa anak pendekar.

Jangan dikata pada dalam Betawi
Ada diperkosa puteri-puteri
Siapa melawan dipaksa diri
Diancam jiwa serta disuapi.

Oleh kelakuan Bandar demikian
Bergudang-gudang uang kehilangan
Jika kurang harta Temanggung Sultan
Tentulah miskin oleh anak harapan.

Tiada tertahan marah mereka
Jika begitu merusak negara
Nomer satu menghina bangsa
Nomer dua adat lembaga.

Bukan begitu kelakuan sultan
Mudah dimasuk iblis setan.
Jika begitu dihukum Tuhan
Ayah lari anak kekurangan.

Tiada aku panjangkan mudah
Akan Temanggung punya sumpah
Bandar termenung rupa mengindah
Berpikir hendak lari pindah.

Sangatlah malu Bandar cekatan
Pada tegur ayah yang bukan-bukan
Betul rasanya di dalam badan
Hendak diubah tujuan pikiran.

Berpikir lari tujuan pemuda
Cuma membawa teman seperlunya
Kepada ayah tidak diceritanya
Hanya ibu mengetahui jua.

Ibu melarang nyatalah tentu
Ibu kasihan memesan pulang
Ceritanya tidak akan kupanjang
Keberangkatan Bandar lagi kuterang.

  • kembali ke daftar isi