Balian Bawo Panjat Manau

Ada berbagai macam tarian Balian Bawo salah satunya adalah balian Bawo Panjat Manau (sejenis pohon kayu yang batangnya penuh duri seperti paku). Tarian ini biasanya untuk upacara pengobatan atau upacara membayar janji atau nazar (syukuran) sehabis panen. Tari balian bawo berasal dari suku Dayak Deah. Dalam perkembangannya sekarang, tari Balian Bawo Panjat Manau tidak lagi terpaku pada waktu dan keperluan ritual tertentu. Aksi yang bisa membuat bulu kuduk bergidik itu belakangan ini dapat ditampilkan di muka umum, kapan saja dan untuk kesempatan apa saja, mulai dari hajatan sunatan sampai pesta pernikahan. Tarian ini ditarikan oleh satu orang atau lebih penari yang kebal terhadap benda tajam, penari memanjat pohon berduri dengan telanjang dada dan tanpa menggunakan alas kaki, melakukan gerakan-gerakan tarian namun anehnya tidak mengalami luka sedikitpun. Pohon Manau dipasang tidak tegak berdiri tapi sedikit miring sehingga penari bisa bergerak dan berjalan di atasnya tanpa harus berpegangan. Tarian ini diiringi ansamble musik atbuh dan kendang. Penari juga sekaligus sebagai Balian (dukun pengobatan). 

Tarian pada masyarakat Dayak Deyah memiliki sedikit perbedaan dengan tari- tarian pada subsuku Dayak lainnya, yakni pada penggunaan alat. Tari-tarian Dayak Deyah umumnya lebih menekankan pada gintur (bambu). Pemakaian gintur dalam tradisi Dayak Deyah bukannya tanpa sebab. Konon, bambu merupakan alat yang menjadi andalan nenek moyang Dayak Deyah untuk bergerilya melawan penjajah.
 
Selain tarian itu, setidaknya ada juga lima jenis tarian Dayak Deyah lainnya, yakni tari Balian Dadas, Gintur, Mengundang, Nande, dan tari Balian Bukit.