Garantung (Gong)


Garantung. Sejak masa lampau, masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah atau Kalteng telah mengenal seni musik dan perangkatnya. Selain digunakan sebagai sarana hiburan, seni musik tradisional ini juga erat hubungannya sebagai pelengkap berbagai ritual adat.

Dalam perkembangannya, masyarakat Suku Dayak Kalteng mengenal berbagai alat pendukung musik tradisional. Sebagian merupakan alat musik yang berasal dari karya cipta masyarakat Suku Dayak sendiri. Sebagian lagi merupakan serapan dari budaya musik tradisional daerah luar. Garantung merupakan alat musik tradisional khas suku Dayak Kalimantan Tengah yang tak terpisahkan dalam berbagai ritus kehidupan masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah. Selain Garantung, masyarakat Dayak Ngaju juga menyebutnya dengan Gong dan Agung. Umumnya Garantung terbuat dari bahan baku logam seperti besi, kuningan, atau perunggu.

Menurut sejarah Garantung masuk ke wilayah Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah dibawa oleh para pedagang dari tanah Jawa, tepatnya pada saat hubungan dagang antara pedagang dari Kalimantan dan Kerajaan Majapahit. Meski begitu, ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa masuknya Garantung ke daratan Kalimantan dibawa oleh para pedagang asal Yunan (Cina), India dan Melayu yang pada masanya memiliki pengaruh besar bagi perkembangan masyarakat Suku Dayak.

Di kalangan masyarakat Suku Dayak, Garantung juga dipercaya sebagai salah satu benda adat yang diturunkan dari Lewu Tatau (Surga atau Khayangan dalam bahasa Sangiang) sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi dengan roh-roh leluhur.

Dalam komunitas masyarakat Suku Dayak, Garantung juga digunakan untuk memberi tahu masyarakat luas tentang adanya suatu acara atau pesta yang dilaksanakan oleh salah satu keluarga, dan dari salah satu kampung ke kampung lain.

Begitu juga ketika acara kematian atau upacara Tiwah khususnya para pemeluk Kaharingan, pada saat jenazah masih disemayamkan di rumah duka, Garantung akan dimainkan untuk mengantarkan roh orang yang meninggal ke alam roh.

Tari Kanjan sebagai salah satu tarian sakral untuk mengantarkan roh orang yang meninggal ke alam roh, Garantung menjadi salah satu alat untuk mengiringi tarian tersebut. Garantung akan dimainkan dengan irama khusus dan sakral.

Selain sebagai alat musik tradisional, dalam komunitas masyarakat adat Suku Dayak, Garantung juga menjadi salah satu benda berharga yang berfungsi sebagai barang adat dan dijadikan sebagai alat tukar untuk menilai sesuatu barang atau jasa.

Keperluan sebagai barang adat itu masih berlangsung hingga sekarang, khususnya pada acara adat perkawinan, Garantung menjadi salah satu mas kawin atau barang permintaan yang harus diserahkan kepada pihak ahli waris mempelai perempuan.

Pada perkembangan selanjutnya, karena terbatasnya jumlah Garantung, maka nilai sebuah garantung kemudian dihitung dalam bentuk nilai mata uang yang berlaku pada saat perjanjian perkawinan adat kedua mempelai dilakukan.

Selain itu, dahulu Garantung juga menjadi salah satu penanda status sosial seseorang. Semakin banyak garantung dimiliki oleh seseorang atau keluarga tersebut, maka akan semakin tinggi ststus sosial yang bersangkutan dan semakin tinggi pula ia dihormati oleh masyarakat.

Garantung Suku Dayak terdiri atas empat jenis dengan lima nada dasar atau laras, masing-masing adalah Garantung Tantawak, berukuran kecil dan memiliki nada dasar G atau E, Garantung Lisung dengan ukuran sedang memiliki nada dasar D atau C, Garantung Papar berukuran besar dengan nada dasar A, serta sebuah Garantung Bandih yang berbentuk kecil tetapi memiliki nada yang tinggi.