Gandang Tatau

Gandang Tatau (gendang tunggal) adalah jenis Gandang yang agak besar dan panjang. Panjangnya bisa mencapai satu-dua meter dengan garis tengah atau diameter mencapai lebih kurang 40 centimeter.

Pada Gandang Tatau, salah satu bagian ujungnya dipasang membran yang terbuat dari kulit sapi, rusa atau panganen (ular sawa atau piton) dan pada bagian pangkalnya dibiarkan terbuka untuk menguatkan suara ketika membran ditabuh.

Gandang tatau biasanya digunakan pada upacara-upacara adat, antara lain acara tiwah (upacara kematian, Red), bantang, wara dan upacara penyambutan tamu dengan alat musik pengiring lainnya terdiri atas gong sebanyak tiga-lima buah dan seperangkat kangkanong.


Gandang Tatau sering disebut juga Gandang Tunggal adalah jenis gandang (gendang dalam bahasa Indonesia) yang memiliki ukuran relatif lebih besar dan panjang jika kita membandingkannya dengan gandang lainnya yang juga sama-sama alat musik tradisional khas Suku Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng), hal ini dikarenakan panjang Gandang Tatau bisa mencapai satu sampai dua meter dengan ukuran garis lintang tengah atau disebut diameter bisa mencapai ukuran tidak kurang dari empat puluh sentimeter.
Pada bagian ujung salah satu Gandang Tatau dipasang membran dari kulit hewan seperi kulit sapi, ular sawah atau penganen bahkan hingga kulit binatang rusa dan pada bagian ujung pangkalnya biasanya dibiarkan terbuka begitu saja dengan harapan agar bunyi yang dihasilkan saat sebuah Gandang Tatau ditabuh bisa lebih keras.
Sedangkan untuk mengwencangkan membran biasanya dipasang tali pengencang, tali pengencang tersebut bisa terbuat dari bahan rotan atau juga kulit hewan yang dibuat panjang seperti tali. Pada bagian tengah tubuh Gandang, tali tersebut diikatkan lagi pada sebuah sabuk yang terbuat dari bahan rotan, kemudian disisipkan 4 sampai 5 buah pasak dari bahan kayu untuk pengunci, pengunci berfungsi agar sabuk dan membran tidak mudah mengendur.
Gandang Tatau juga termasuk instrumen musik yang berkedudukan sangat tinggi, karena alat ini selain sebagai alat musik juga digunakan sebagai perlengkapan ritual yang sering digunakan pada berbagai acara adat suku Dayak seperti upacara ritual Tiwah (upacara kematian) dan upacara penyambutan tamu kehormatan.

  • kembali ke daftar isi
  • print this page Print halaman ini