Rabu, 20 Mei 2009

Palangkaraya Jadikan Ritual Adat sebagai Wisata

PALANGKARAYA, KOMPAS.com—Pemerintah Kota Palangkaraya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat menjadikan upacara ritual adat Tiwah sebagai obyek wisata.

Upacara ritual adat Tiwah satu dari 12 obyek wisata andalan Kota Palangkaraya yang terus dipromosikan dan dilestarikan, kata Kepala Bidang Kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Anna Menur, Selasa.

Menurutnya, ritual adat Tiwah dijadikan obyek wisata karena unik dan khas yang bisa menjadi daya tarik orang lain untuk mengetahui ritual tersebut.

Apalagi, kalangan wisatawan mancanegara sangat tertarik dengan hal-hal unik dan spesifik, yang hanya dilakukan warga Dayak Kalteng tersebut.

Menurutnya, upacara adat keagamaan ini merupakan bagian dari kepercayaan umat Hindu Kaharingan. Hindu Kaharingan merupakan agama terdahulu yang ada di Pulau Kalimantan. Agama ini secara turun-temurun dipercayai hingga generasi sekarang.

Sementara ritual Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa-sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang disebut sandung.

Namun, kegiatan ini tidak bisa dijadwalkan secara tetap setiap tahun sebab dalam penyelenggaraannya sangat tergantung kesiapan keluarga, terutama dalam segi finansial, kata Anna, seraya mengutip buku terbitan instansinya mengenai ritual adat Tiwah tersebut.

Menurut Anna, selain Tiwah yang jadi obyek wisata masyarakat Kota Palangkaraya, juga ada kegiatan budaya Pekan Budaya Isen Mulang yang digelar secara tahunan.

Festival budaya tahunan ini sebagai wujud apresiasi pemerintah dan masyarakat Kota Palangkaraya atas peninggalan adat istiadat leluhur, dengan menggelar adu ketangkasan dalam berbagai kreteria.

Selain itu, budaya Isen Mulang juga menggelar berbagai lomba, antara lain tari tradisional, kerungut, malamang, masak tradisional, melukis ornamen Dayak, ekshibisi seni, bela diri, serta lomba mengarang cerita rakyat.

Berdasarkan sebuah catatan, Tiwah bagi masyarakat Hindu Kaharingan merupakan upacara terakhir dari rentetan upacara kematian.

Acara Tiwah berkaitan erat dengan konsep roh atau jiwa yang dipercayai oleh masyarakat Dayak Ngaju ketika mereka meninggal maka rohnya akan terbagi menjadi tiga.

Pertama, Salumpuk teras liau atau panyalumpuk liau, roh utama yang menghidupkan ini pada saat meninggal dunia langsung kembali ke Ranying Mahatala Langit Sang Pencipta.

Kedua, liau balawang panjang ganan bereng, roh dalam tubuh yang dalam upacara balian tantulak ambun rutas matei di hantar ke tempat yang bernama lewu balo indu rangkang penyang. Dan ketiga, liau karahang tulang, silu, tuntang balau.

Ini adalah roh yang mendiami tulang, kuku, dan rambut. Pada saat mati roh ini tinggal di dalam peti mati. Upacara yang terakhir adalah Tiwah, menyatukan kembali ketiga roh tadi dan menghantarkan ke Sorga yang dikenal dengan Lewu Tatau.


  • back to article list
  • print this page Print halaman ini
  • save the orangutans