Ukuran Kacapi

Ukuran Kacapi bervariatif, tergantung pada kreativitas dan kesukaan si pembuat Kacapi tersebut atau disesuaikan dengan permintaan atau pesanan. Namun apabila melihat bentuk dari Kacapi, umumnya hampir sama satu dengan yang lainnya, yang membedakan hanyalah ukiran atau ornamen pada masing-masing Kacapi, ornamen tersebut semata-mata merupakan pemanis atau penambah keindahan dari bentuk Kacapi.

1). Panjang Kacapi
Ukuran panjang Kacapi berbeda-beda, sesuai dengan selera pembuatnya, tak ada ukuran baku, masyarakat suku Dayak Ngaju pada masa dahulu belum mengenal cara-cara pengukuran seperti yang biasa kita kenal saat ini. Namun apabila mengacu pada cara pengukuran tradisional suku Ngaju, yaitu dengan cara pengukuran menggunakan panjang jarak antara pusar sampai ke ujung kaki orang dewasa atau pembuatnya, maka panjang Kacapi disesuaikan dengan tubuh si pembuat Kacapi tersebut. Pada masa dahulu seorang pemain Kacapi juga pandai meembuat Kacapi. Namun ada umumnya, rata-rata panjang Kacapi bila diukur dari ujung Kuluk sampai dengan ujung Bitin Kacapi, lebih kurang 1,25cm, tanpa adanya penambahan ujung yang berornamen.

2). Lebar Bitin Kacapi
Bitin Kacapi memiliki lebar yang bervariasi pula, rata-rata Bitin Kacapi tidak terlalu lebar, hal ini dimaksudkan agar mudah dimainkan dan mudah dibawa. Berdasarkan hal tersebut, bahwa lebar Bitin Kacapi kurang lebih 15 cm sampai dengan 25 cm.

3). Lebar Gandar dan Panjang Gandar
Lebar Gandar bervariasi, kira-kira antara 4 cm-4,5 cm untuk Kacapi bersenar dua dan kira-kira 4,5 cm untuk Kacapi bersenar tiga. Panjang Gandar sama bervariasi pula, namun panjang Gandar apabila diukur mulai dari Senta Baun sampai ke bagian tengah-tengah Kacapi kurang lebih 50 cm, sedangkan wilayah yang digunakan untuk permainan nada atau penjarian hanya kurang lebih 10 cm.

Jumlah Senar Kacapi
Senar Kacapi yang berasal dari Katingan berjumlah dua dengan ketentuan senar satu lebih kecil dibanding senar ke-dua, sedangkan Kacapi yang menggunakan tiga buah senar yaitu yang berasal dari Kapuas-Kahayan dan yang berasal dari Tanah Siang yang disebut dengan Kacapi Tari Alai, ketiga senar berurutan untuk senar satu kecil, untuk senar dua sedang, dan untuk senar tiga besar.

Bahan Senar Kacapi
Mulanya Kacapi suku Dayak Ngaju menggunakan senar yang terbuat dari bahan tengang yaitu tali liat yang terbuat dari bahan kulit kayu, kemudian pada perkembangannya Kacapi menggunakan senar berbahan rotan atau uei dalam bahasa Dayak Ngaju dengan jenis tertentu, jenis rotan tersebut disebut Uei Malik, ciri rotan atau Uei Malik tersebut, apabila dipotong atau diputus dari batangnya atau induknya maka akan berubah warna dari kuning kecoklat-coklatan menjadi kehitam-hitaman. Rotan tersebut dibelah menjadi belahan kecil memanjang menyerupai, sehingga menyerupai senar atau dawai.
Saat ini senar Kacapi telah digantikan dengan memakai bahan senar Nilon, ada juga yang memakai senar berbahan Kawat, namun senar yang paling sering digunakan adalah senar Nilon. Dikarenakan senar berbahan Nilon dianggap lebih praktis, tahan lama, dan tidak mudah rusak atau putus, disamping itu senar berbahan Nilon dapat menghasilkan bunyi Kacapi yang mirip dengan warna suara senar berbahan Uei Malik.

Bahan Pembuatan Kacapi
Bahan yang digunakan untuk membuat Kacapi ini adalah kayu Hanjalutung (Dyera Costulata) sebutan dalam bahasa Ngaju, dalam bahasa Siang disebut kayu Nyolitung, dan dalam bahasa Kenyah disebut dengan kayu Ampang. Dipakainya jenis kayu ini selain dikarenakan memang banyak terdapat di Kalimantan, juga memiliki keunggulan yaitu ringan, lembut atau lentur, tidak mudah rusak atau pecah, apabila kering akan semakin erat dan kuat, bunyi yang dihasilkan lebih jelas dan melengking.

Dikutif dari Skripsi Penelitian Kacapi, Judul ; Kacapi Suku Dayak Ngaju Kalimantan Tengah. Penulis : Satriawan. Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia Yogyakarta